Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Tjimande Tari Kolot Karuhun Banten Indonesia (TTKKBI) Kecamatan Serang menggelar peringatan Milad ke-1 pada Minggu, (22/6/202), bertempat di Kelapa Dua, Kota Serang. Acara ini berlangsung meriah dengan dihadiri ratusan anggota dan tokoh TTKKBI, serta diisi penampilan seni pencak silat sebagai bentuk pelestarian budaya Banten. Hadir juga Ketua DPW I Jakarta, H. Hermansyah Yusuf yang tak mau ketinggalan mengikuti acara tersebut sebagai tamu spesial.
Ketua Umum DPP TTKKBI, H. Tubagus Arif Hidayat, hadir langsung dan menyampaikan sambutan yang menegaskan kembali identitas serta sejarah berdirinya organisasi tersebut.
“Alhamdulillah, saya yang mendirikan TTKKBI, apabila ada yang belum mengetahui,” ujar H. Tubagus Arif Hidayat dalam sambutannya.
Ia menambahkan bahwa sebelum mendirikan TTKKBI, dirinya pernah aktif di organisasi lain yang juga berbasis jurus Cimande.
“Sebelumnya saya pernah berjuang di wadah yang lain, yang sama-sama berdiri di atas jurus Tari Kolot Cimande. Alhamdulillah, Allah memberikan jalan saya seperti ini,” lanjut Tubagus Arif.
Sementara itu, Ketua DPW I TTKKBI Provinsi Banten, H. Hudi Nurhudiyat, menyampaikan pesan kuat mengenai pentingnya kesetaraan dan kebersamaan dalam organisasi. Ia meminta agar tidak ada pihak yang merasa lebih berhak hanya karena lebih dulu bergabung atau berada di struktur atas.
“Kita harus menghilangkan segala perbedaan, ketika kita merasa sebagai perintis dan yang lain pewaris. Semuanya kita adalah perintis dan semua pewaris, yang kita butuhkan adalah cintanya,” ujar Hudi Nurhudiyat.
Menurut Hudi, semangat kolektif adalah ruh organisasi. Ia mengingatkan agar tidak ada yang merasa superior atas nama sejarah pribadi.
“Jangan mengedepankan keegoan dan keangkuhan, bahwa dengan mengatakan ‘kami adalah perintis’, seolah yang lain tidak penting,” kata Hudi. “Padahal kita semua, dari A sampai Z, adalah bagian dari yang mengembangkan TTKKBI.”
Lebih lanjut, Hudi menekankan pentingnya membangun organisasi bukan atas dasar gengsi, tetapi melalui kesadaran yang jernih dan sehat.
“Yang harus kita sadari, bahwa yang membangkitkan kesadaran kita agar TTKKBI maju adalah pikiran yang sehat,” ujarnya.
Hudi juga menyoroti pentingnya menanamkan rasa kesamaan di dalam tubuh organisasi, tanpa merendahkan siapapun berdasarkan posisi atau lamanya bergabung.
“Kesadaran yang kita bangun di TTKKBI bukan berucap ‘siapa dia’, tetapi bahwa kita adalah sama,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa jabatan bukan kebanggaan, tetapi amanah yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab.
“Ketika kita berada di atas, itu bukan suatu kebanggaan. Kami di DPW I justru sedang menjalankan amanah yang berat,” kata Hudi Nurhudiyat.
Hudi mengingatkan agar seluruh anggota menjaga silaturahmi dan menjalankan aktivitas budaya seperti debus dengan niat yang luhur.
“Maka bagaimana kita menjalankan TTKKBI yang baik? Ratakan tali silaturahmi. Perjuangkan TTKKBI bukan dengan kesombongan,” ujarnya.
“Misalnya pertunjukan debus, itu bukan untuk kesombongan, tetapi untuk mengenang leluhur kita,” sambung Hudi.
Ia menutup sambutannya dengan menekankan kembali jati diri TTKKBI sebagai organisasi budaya.
“Kita adalah organisasi budaya, maka budaya itu adalah budi pekerti, atau adab,” kata Hudi Nurhudiyat.
Ketua DPC TTKKBI Kecamatan Serang, Iman, juga menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya acara ini dengan lancar. Ia menjelaskan bahwa milad sempat tertunda karena menyesuaikan dengan jadwal para petinggi organisasi.
“Kegiatan ini sebetulnya akan dilaksanakan seminggu lalu. Namun Ketua Umum dan Ketua DPW I Provinsi Banten berhalangan karena ada acara di Bandung,” ungkap Iman.
Ia pun menyatakan kebanggaannya karena acara akhirnya bisa terselenggara dengan dukungan langsung dari pimpinan pusat dan wilayah.
“Kami sangat bangga bahwa acara ini akhirnya bisa terlaksana dengan sukses, apalagi dihadiri oleh para pimpinan kami,” pungkas Iman.
Acara milad ini menjadi tidak hanya momentum peringatan, tetapi juga refleksi bersama dalam memperkuat nilai-nilai dasar TTKKBI sebagai organisasi pelestari budaya dan adab leluhur Nusantara. ** (sumber: GZN)
